Jumat, 21 November 2014

Kerusuhan Di Muara Badak : Buntut Kasus Perampokan

kotabontang.net - Buntut Kasus Perampokan, 10 Rumah, 1 Dump Truck dan 2 Motor Dibakar
Situasi Berangsur Kondusif, Polisi Minta Warga Tak Terpancing

BONTANG. Secara perlahan, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Desa Badak Mekar, Kecamatan Muara Badak mulai kondusif. Itu setelah satu pleton Dalmas Polres Bontang dibantu seluruh satuan dan jajaran Polsek Muara Badak serta Marangkayu diterjunkan ke sana.

Kapolres AKBP Heri Sasangka, melalui Kasubag Humas Iptu Kalvin mengatakan, tewasnya wakar PT CAS bernama Gunawan, dan disekapnya Asa yang juga wakar PT CAS, murni kasus pencurian dengan kekerasan (curas) atau biasa disebut perampokan. Hingga Kamis (20/11) kemarin, polisi masih terus melakukan pengejaran terhadap tersangka.

“Yang menewaskan korban (Gunawan, Red.) murni kasus curas. Sejauh ini, belum ditemukan adanya bukti kasus kriminal lain. Sehingga, kami imbau kepada masyarakat untuk bisa menahan diri dan tidak terpancing dengan isu-isu negatif yang berkembang. Jajaran kami sedang melakukan upaya pengejaran terhadap tersangka,” katanya.

Informasi yang dihimpun media ini, buntut dari peristiwa perampokan tersebut ada sekitar sepuluh rumah warga di RT 16 Desa Badak Mekar yang terbakar. Selain itu satu unit dump truck dan dua unit motor juga hangus. Pembakaran diduga dilakukan oleh sekelompok massa tak dikenal. Padahal, para tokoh masyarakat sudah berupaya menjaga kamtibmas dan menyerahkan kasus itu ke aparat berwajib.

“Tadi (kemarin, Red.) saya mendapat laporan ada rumah yang terbakar. Namun, situasi kembali kondusif. Karena, sejak terjadinya kasus curas itu, kami sudah sepakat dengan para tokoh masyarakat untuk menyerahkan kasus itu ke polisi,” katanya.

Diberitakan, Gunawan dan Asa yang merupakan wakar PT CAS menjadi korban perampokan PT CAS, Rabu (19/11) lalu. Pasalnya, enam ekskavator mengalami kerusakan, yakni empat unit ekskavator Komatsu PC 300 dan dua unit Komatsu PC 400. Kaca jendela seluruh ekskavator itu pecah, sedangkan enam layar monitor hilang. Akibat kejadian itu, Gunawan tewas. Sementara Asa ditemukan dalam kondisi terikat mata, mulut, tangan, dan kaki menggunakan lakban.

Sementara itu, ditemui di Mapolres Bontang tadi malam, Asa tidak menyangka jika malam itu adalah malam terakhir kebersamaannya dengan Gunawan. Maklum, bagi Asa Gunawan merupakan sahabat dan seperti anaknya sendiri. Pria 60 tahun itu sesekali menitikan air mata ketika mengingat kejadian itu.

“Pos saya ada di dalam. Jaraknya sekitar 300 meter dari pos depan yang dijaga Gunawan. Malam itu kami sempat ngobrol bareng. Setelah itu saya kembali ke pos saya dan Gunawan berjaga di pos depan,” katanya.

Malam harinya, tiba-tiba lampu di pos yang dijaga Asa padam. Sejurus kemudian, Asa yang sudah tua dipegang oleh beberapa orang. “Kedua tangan saya dipegang dua orang. Kemudian, ada dua orang lagi yang pukuli saya. Waktu itu saya coba berontak, Mau kasih tahu Gunawan. Tapi mulut saya langsung di lakban. Kalau tidak salah, jumlah orangnya empat,” ceritanya.

Dengan kondisi terikat, Asa pun tak mampu berbuat apa-apa. Dari kejauhan, dia masih melihat lampu di pos yang dijaga Gunawan menyala. “Saya tidak bisa apa-apa. Sampai pagi saya berusaha melepaskan diri. Tapi tidak bisa. Akhirnya saya dibantu sekuriti (sekuriti PT CAS bernama Sabroni, Red.). Setelah menemukan Gunawan, akhirnya kami melapor ke polisi,” katanya.

Previous
Next Post »