Kamis, 20 November 2014

Kisah Sukses Pak Nana Penjual Siomay

kotabontang.net - Modal Kecil Hingga 4 Cabang Toko
Siapa bilang modal terbatas tidak mampu membangun usaha? Berbekal tekad besar, kesabaran serta ketekunan tidak ada yang mustahil. Inilah yang dibuktikan pria 40 tahun, biasa disapa Pak Nana. Kini sukses dengan siomay dan batagor Bandung.

Berawal dengan modal Rp 250 ribu, membuka kedai di Jl Lambung Mangkurat. Usaha itu mencapai omzet jutaan rupiah perhari. Belakangan ekspansi lagi, membuka usaha gorden (tirai jendela).

Namun diakui Pak Nana, hasil yang didapatkannya sekarang melalui jalan panjang, tidak mudah. Pak Nana memulainya benar-benar dari nol. Telah puluhan kali merasakan jatuh bangun ketika memulai usaha.

Berbagai usaha pernah digelutinya, sejak tahun 1997 sudah 11 jenis usaha ia lakoni mulai dari multi level marketing (MLM), berdagang kelontongan, bisnis pakaian muslim, katering, bisnis barang-barang kerajinan, dan sebagainya. Namun semua usahanya selalu jatuh bangun. Hanya memberikan keuntungan tidak seberapa.

Sikap pantang menyerahlah yang menjadi modal utama pria asli Bandung ini dalam meraih kesuksesan. Akhir 2005, Pak Nana memutuskan berjualan siomay, dipadukan batagor. Bahkan secara khusus membuat formula siomay yang benar-benar menggugah selera, khususnya pada bumbu kacangnya.

Selama beberapa bulan, terus mencari resep agar bumbu kacang sebagai pelengkap siomay dan batagor dagangannya memiliki ciri khas sendiri. ‘’Mencoba terus resep-resep bumbu kacang, akhirnya mendapatkan rasa yang pas. Bumbu kacang saya dijamin tak sama dengan lainnya karena karena menggunakan ebi (udang kering) dan kacang mede. Itu yang membuat pelanggan jatuh hati,’’ ungkap Pak Nana ketika Sapos berkunjung ke salah satu kedainya, yang di Jl Lambung Mangkurat.

Ia tak pernah menyangka jika sambutan masyarakat atas siomay dan batagornya begitu ramai. Ia pun memberanikan diri membuka cabang di tiga kawasan berbeda di Samarinda.
Kini telah mempekerjakan 50 karyawan untuk 3 cabang siomay batagor, ditambah karyawan untuk usaha pembuatan gordennya.

‘’Semua karyawan saya bawa dari kampung (Bandung, Red). Mereka pemuda-pemuda di kampung yang tidak memiliki pekerjaan,’’ tambahnya.

Kini hasil yang diraihnya atas usaha yang dirintisnya, berupa rumah yang kini ditinggali, sebuah mes untuk menampung para pekerjanya, serta tabungan di bank yang enggan ia sebutkan nilainya.

Sebelum buka cabang, keuntungan bersih Pak Nana mengantongi per bulan hanya Rp 500 ribu. Kondisi itu terjadi selama enam bulan. Belakangan, setelah laris usaha memperlihatkan hasil maksimal. Bahkan, mulai ekspansi, buka cabang di Jl P Antasari. Namun bumbu tetap diracik di satu tempat.

Pada saat itulah, mulai berpikir bisa menambah hasil kerja kerasnya. Akhirnya menemukan cara lain, menggabungkan usaha siomay batagornya dengan usaha gordennya. Alhasil, bisa meraih penghasilan menjanjikan.

Sumber : sapos.co.id

Previous
Next Post »