Jumat, 22 April 2016

Cara Terbaik Mendapat Jodoh Adalah Memperbaiki Diri dan Bersabar, Aku Membuktikannya


Aku seorang wanita berusia 23 tahun, masih muda kata orang, tetapi aku berani memutuskan untuk menikah. kata orang di zaman sekarang, usia 23 masih terlalu muda dan masih anak-anak. Tapi aku tidak peduli, karena kedewasaan bukan diukur dari berapa banyak usia. Kedewasaan dilihat dari cara bersikap saat menghadapi masalah dan berperilaku.

Takdir Allah Membuka Mata Saya

Sebelumnya aku pernah mengalami “Fase Pacaran” hingga 6 tahun lamanya, dan itu adalah perbuatan yang sangat aku sesali sampai sekarang. Kenapa? Karena bukan dengan orang yang menjadi suamiku sekarang, pria itu adalah orang lain yang sekarang menganggap aku sebagai musuhnya. Memang, soal jodoh, Allah yang mengatur, sekuat apapun manusia berencana dan berkeinginan, jika Allah tidak berkehendak semuanya tidak mungkin terjadi.

Dari awal keluargaku memang menentang hubungan ini, alasannya hanya mereka yang tahu. Sampai puncaknya orang tuaku berkata "Jika kamu tetap memilih dia dan menikah, bapak tidak akan menganggap kamu sebagai anak, kamu harus pergi dari rumah ini,”. Hancur hati aku mendengar ucapan bapak, semarah itukah orang tuaku?

Setelah itu aku berani mengambil keputusan, tak sampai hati aku membuat orang tuaku kecewa, dan aku berjanji akan menjadi anak yang berbakti pada mereka. Aku berpikir, sebagai anak pertama dan paling besar sepatutnya aku memberi contoh kepada adik-adikku.
Setelah kejadian itu, setiap hari sang “mantan pacar” meneror aku dan keluarga, sampai-sampai dia mendoakan keburukan untuk keluarga kami terutama untuk Bapak, karena dia dendam cintanya tidak direstui.

Proses Pencarian dan Kekosongan Hati

Seiring waktu berjalan, aku ingin menjadi lebih baik dan mencari pengganti. Selama proses pencarian jati diri dan calon suami, banyak laki-laki yang mendekatiku. Aku pilih salah satu di antara mereka, ternyata aku dikecewakan dan dimanfaatkan. Dia bosan setiap kali aku menyinggung tentang pernikahan. Ternyata dia belum siap menikah, impian dia mempunyai rumah sendiri sebelum menikah. Dan aku tahu pekerjaan pun dia tak punya.
Aku tetap membuka hati dan diri untuk yang lain, sampai dengan lelaki terakhir yang aku kenal yaitu  “Mantan Cinta Monyet”. Belum jodoh, hubungan kami berakhir sama mengecewakannya dengan hubungan sebelumnya.

Ada rasa putus asa dalam dada, siapa yang akan jadi suamiku kelak? Sedangkan teman lelaki yang aku kenal semuanya mengecewakan. Mungkin ini jalan Allah untukku, sebelum aku  menemukan orang yang tepat aku harus bertemu dengan orang yang salah agar aku bisa belajar dari perjalanan hidup ini. Alhamdulillah doaku terkabul sesuai keinginanku.
Manisnya Buah Kesabaran

Teringat pesan teman, jika punya keinginan menikah tetapkan dalam hati dan banyak berdoa. Sejak saat itu aku berdoa dan meneguhkan niat. Aku ingin menikah di usia 23 tahun, dan aku ingin menikah tahun depan (2015).

Tepatnya Idul Fitri tahun 2014 kemarin, Allah mempertemukan aku dengan orang yang menjadi suamiku sekarang. Pertemuan yang singkat tapi bermakna, banyak orang yang mendoakanku agar berjodoh dengan dia (suamiku), mulai dari tetangga, saudara, kakek nenek, dan teman-teman. Benar apa kata hadis Rasulullah, rida nya orang tua adalah rida Allah.

Begitu lancar niat baik kami, 3 bulan perkenalan dia dan keluarganya datang melamarku. 9 bulan dari perkenalan, kami memutuskan untuk menikah. Belum setahun kenal memang, kami mantap untuk mengambil keputusan ini.
 
 
Idul Fitri Tahun ini, 1 Syawal 1436 H aku tetapkan sebagai hari bersejarah kami untuk 1 tahun pertemuan kami.

Untuk Anda yang saat ini masih menanti jodoh terbaik, yakinlah, dia akan datang. Jika kita memantaskan diri dan bersabar, Allah akan memberikan orang yang terbaik untuk kita. Jadilah anak yang berbakti dan patuh kepada kedua orang tua, karena jika hati mereka senang banyak kebaikan untuk kita secara tidak langsung.

Previous
Next Post »