Jumat, 22 April 2016

Tuhan, Terima Kasih Kejutan Ini, Bahwa Pacarku Menikahi Perempuan Lain


Aku bertemu dengannya pada bulan Maret tahun 2014 ketika tinggal di Bali. Dia tinggal di villa sebelahku. Pertama kali aku melihatnya, saat itu dia sedang pemanasan olahraga di balkon, sementara aku sedang menjemur pakaian. Aku sempat terpaku menatapnya, karena tampan and that’s all, saat itu dia juga menatapku cukup lama.

Esoknya, dia mengadakan party di villanya, dan temanku yang kebetulan adalah WNA juga hadir di sana. Sementara aku memilih di rumah karena aku memang tidak suka hal-hal seperti itu. Sepulangnya temanku dari party, dia kemudian bilang kepadaku bahwa ada yang ingin kenalan denganku. Yang satu adalah lelaki berumur 21 tahun asal Swedia dan satunya lelaki berumur 24 tahun dari Rusia. Karena sudah terpikat dengan lelaki yang kulihat di balkon kemarin, aku pun bertanya kepada temanku “Punya fotonya?”. Lalu temanku memberi alamat Skype mereka dan di sanalah I found him, dia adalah orang Rusia itu.

Aku meng-add Skypenya dan dia langsung menerima dan menyapaku, kalimat pertama yang diucapkannya adalah “Hallo I’m Dmitri and I’d like to know you, I never meet such a beautiful girl like you” tapi yeah.. apalah artinya kata-kata itu sekarang? Nothing.

Selama 1 minggu kami menghabiskan waktu bersama, sebelum akhirnya dia kembali ke Rusia dan aku kembali ke Yogyakarta karena masa libur kuliahku sudah habis.

Tidak lama setelah dia pulang ke Rusia, dia menyatakan perasaannya, katanya dia mencintaiku dan akan datang ke Indonesia pada bulan Agustus untuk bertemu denganku. Saat itu aku merasa jadi orang paling beruntung di dunia ini, aku menemukan seorang lelaki yang perfect, tampan, pintar, dan memiliki pekerjaan bagus. Dia adalah lelaki idaman menurutku dan mungkin juga menurut semua perempuan di dunia ini. Aku menerima dia menjadi pacarku saat itu juga dan jadilah kami sepasang kekasih.

Pada awalnya LDR tidak menjadi masalah, kami saling mengerti dan mendukung satu sama lain dan pada awalnya dia rutin mengirimiku pesan lewat sms, Skype maupun Facebook setiap harinya. Tapi sesuatu terjadi 3 bulan kemudian, dia mulai jarang mengirim pesan dan menghilang selama 2 bulan. Bahkan tanggal 13 Agustus yang dijanjikan dia akan datang ke Indonesia pun dilupakannya. Dia seperti menghilang ditelan bumi, saat itu aku mencarinya, terus mengirim pesan ke semua akun medsos dan no hp nya tapi tidak pernah ada jawaban.

Pada bulan September dia muncul kembali dan menyapaku, dan yang kusesali hingga saat ini adalah kebodohanku yang selalu memaafkannya. Tanpa rasa bersalah sedikit pun dia bilang dia merindukanku dan bilang kalau dia sangat sibuk bekerja. Dan aku percaya, saat itu aku sangat mempercayainya.

Kemudian dia bilang akhir Desember akan datang karena dia baru bisa mengambil cuti kerja, saat itu aku menunggunya di Bali. Menunggu, menunggu dan menunggu tanpa kejelasan karena lagi-lagi dia menghilang. Sampai pada suatu hari di awal bulan Januari dia meminta aku terbang ke Bangkok karena dia akan menungguku di sana, aku cukup maklum dengan mahalnya harga tiket pesawat dari Rusia ke Indonesia, dan aku setuju.

Aku sudah membooking tiket pesawat ke Bangkok ketika dia menghilang lagi setelah kutanyakan di mana dia tinggal. Tiga hari sebelum penerbangan ke Bangkok, tidak ada kabar juga dan akhirnya aku memutuskan untuk meng-cancel penerbanganku.

Pada akhir Januari, dia muncul lagi dan bilang kalau dia jatuh sakit setelah kembali dari Thailand. Pada saat ini aku sudah nyaris menyerah dan berusaha melupakannya. Tapi kata-kata manisnya itu akhirnya membuat aku luluh. Hubungan kami berjalan baik-baik saja sampai bulan Februari sebelum akhirnya dia berulah dan menghilang lagi yang kemudian muncul pada akhir April. Dan lagi alasannya adalah sibuk bekerja.

Saat itu aku sudah mulai tidak mempedulikannya, bagiku kata-katanya itu seperti angin yang masuk kiri, keluar kanan. Tapi ngga bisa dipungkiri kalau aku masih sering mengulang-ulang janji manisnya di kepalaku.

Dia selalu meneleponku dan mengatakan kalau dia sangat merindukanku dan ingin bertemu denganku tapi sangat sibuk bekerja. Dia memintaku untuk datang ke Rusia  dan setelah mempertimbangkannya akhirnya aku setuju untuk datang ke Rusia pada bulan September? It’s just few days again right? 

Dia berjanji untuk mengajakku melihat tempat-tempat paling indah di Rusia dan aku pun sangat excited mempersiapkan segala keperluanku untuk pergi ke sana. Pada akhir bulan Juli aku sudah memegang tiket pesawat, voucher hotel dan calling visa. Aku bahkan sudah ke travel agent untuk mengurus apply visaku di Jakarta karena aku sibuk dengan skripsi.

Agustus awal, tiket sudah di tangan and I’m ready go to Rusia. Tapi sesuatu terjadi, dia yang awalnya senang sekali mendengar rencanaku datang ke Rusia justru menghilang, dan baru muncul sekitar tanggal 20 Agustus. Di sini aku sudah merasa janggal dan tidak enak. Aku bilang ke dia gimana kalau seandainya aku tidak jadi datang? Dia pun membalasnya dengan sms yang sangat panjang, intinya dia memohon aku untuk datang.

Setiap hari dia mengirim pesan ke aku supaya tidak membatalkan rencana datang ke Rusia. Tapi pada tanggal 23 Agustus, ketika dia gencar-gencarnya merayuku, aku lihat dia di-tag dalam foto pernikahan. Awalnya aku mengira dia adalah teman pengantinnya karena aku lihat hanya sekilas. Tapi pas aku klik, Oh de Deus por pavor me.. Itu adalah foto pernikahannya dengan perempuan Rusia.

Demi Tuhan aku tidak bisa lagi menahan air mataku untuk jatuh, aku bahkan tidak bisa tidur semalaman. Hatiku rasanya terkoyak-koyak, kenapa dia bisa setega ini denganku? Aku merasa dibohongi mentah-mentah. Hampir 1,5 tahun kami pacaran (Mungkin buat kalian ini waktu yang singkat, tapi ini adalah masa pacaran paling lama buatku, he is my first love.. really).

Ketika aku buka akun Facebook istrinya dan melihat nama Instagram-nya, aku putuskan untuk membukanya dan di sana banyak sekali foto mereka berdua yang kalau tidak salah terposting sejak November 2014. Setiap aku melihat foto mereka hatiku terasa sangat sakit, karena foto-foto yang ada di sana adalah foto yang selalu dia kirim ke aku saat dia pergi kerja keluar kota. Hanya saja versinya beda, kalau biasanya dia men=ngirim foto dia sendiri, tapi di Instagram adalah foto mereka berdua.

I never felt so much in pain because loving somebody until today. Aku tidak tahu sampai kapan rasa sakit ini akan berakhir.

Sebenarnya kami memiliki rencana untuk menikah dengannya di bulan Oktober tahun ini setelah wisudaku. Dia juga berencana untuk tinggal di Indonesia denganku. Aku sudah bersusah payah belajar bahasa Rusia untuk memberi surprise ketika kami bertemu. Tapi ya, rencana hanya tinggal rencana. Pertemuan itu tidak akan pernah terjadi lagi dan aku mungkin akan menolak jika dia ingin menemuiku.

Pada akhirnya yang bisa kukatakan kepadanya hanyalah “Berhentilah bicara dan mengirim pesan kepadaku, you are an amazing liar ever!" Bahkan sampai cerita ini kutulis, dia masih terus mengirim pesan kepadaku dan bilang dia menginginkan aku. But everytime this pain attacking me, I always remember this words:

You just have to say to yourself, “I’m not willing to accept anything less than what I deserve! I am smart, I am beautiful, I am a good woman and I deserve to be happy” – Mr. Amari Soul
Kisah nyata ini dikirim oleh salah satu sahabat kami bernama Desy.

Previous
Next Post »