Senin, 02 Mei 2016

Ini Saat Tentara Filipina Disergap Abu Sayyaf Hingga Kepala Prajurit Terpisah Dari Badan

onthespot- Beberapa waktu lalu militer Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf terlibat baku tembak selama sembilan jam di kawasan Basilan, Filipina Selatan, Sabtu (9/4/2016).

Dalam video yang diunggah akun Update video di situs berbagi video YouTube ini terlihat situasi ketika tentara Filipina disergap milisi Abu Sayyaf.

Dalam baku tembak tersebut, 18 prajurit Filipina tewas, empat di antaranya dalam kondisi terpenggal.

(Sandera Abu Sayyaf Kontak Sang Ayah, Dia Mengaku Akan Dipenggal 30 April 2016)

Pasukan militer Filipina dikepung oleh sekira 150 personel kelompok Abu Sayyaf, di antaranya ada yang membawa peluncur granat M203.

Korban dari pihak militer tersebut tercatat sebagai korban terbanyak dalam sehari pertempuran sejak pemerintah Filipina memerangi pemberontak, baik dari kelompok muslim maupun komunis.

Dari pihak Abu Sayyaf, ada lima personel yang tewas dan 20 orang luka-luka.

Seorang personel Batalyon Infanteri ke-44, Sersan Erico Paglinawan, menceritakan bagaimana pasukannya terjebak di ranjau darat yang dipasang kelompok militan.

"Setelah ranjau darat meledak, tiba-tiba kami dihujani tembakan," ujar Erico ketika ditemui di rumah sakit.

Menurutnya pada saat itu prajurit yang bertugas melakukan operasi di Desa Baguindan, Tipo-Tipo, Basilan, berjumlah 30 orang. Erico terkena tembakan di bagian dada.

"Darah saya mengalir bagaikan air keluar dari kran," katanya.

Sambil menunggu datangnya tim evakuasi, tiga jam kemudian, Erico Paglinawan meminum darahnya sendiri, untuk mencegah kehabisan darah.

"Saya minum darah saya sendiri," ujarnya kepada Inquirer. Komandan Batalyon ke-44, Kolonel Tommy Crosby, dan tiga perwira lainnya juga mengalami luka-luka.

Kapten Kilbas Mauricio yang terkena tembakan di kaki kiri mengatakan baku tembak dimulai dengan ledakan ranjau. "Kami dikepung bola api," katanya.

Juru Bicara Komando Mindanao Selatan Angkatan Bersenjata Filipina, Mayor Filemon Tan mengakui ada korban kehilangan kepala.

"Korban kehilangan kepala bukan berarti menjadi korban mutilasi. Kemungkinan musuh menggunakan peluru besar dan kuat sehingga menghancurkan kepala korban," katanya.



Sumber : http://bali.tribunnews.com


Previous
Next Post »