Senin, 02 Mei 2016

Membayar Utang kepada Orang yang Tidak Diketahui Keberadaannya

Assalamualaikum wr wb.
Saya mau tanya mengenai hutang sedangkan yang namanya hutang harus dibayar.

Dulu pas thn 2006 saat saya sedang di penampungan jakarta alias PJTKI saat sedang memproses pemberangkatan ke hongkong saya kekurangan uang dan kebetulan teman saya menawarinya untuk meminjamkan kepada saya, dan akhirnya saya pinjam saya lupa tepat jumlah uangya berapa yang saya ingat sekitar Rp 200/300 dan saya bilang akan saya kembaliin setelah uang kiriman dari ortu saya sampai dan belum sempat saya bayar teman saya udah berangakat duluan, teman saya ini prosesnya di singapur, setelah dia berangkat ke singapur tidak ada kabarnya sama sekali


Yang ingin saya tanyakan bagaimana cara saya membayar hutang saya kepada dia,saya tidak tau keberadaan dia dan alamat rumahnya juga, saya kepikiran terus tentang hutang saya ini, karna saya gak mau meninggal dalam keadaan masih membawa hutang

Saya mohon jawabannya dan kemana saya harus membayar, dan apakah jumlahnya masih sama pada saat saya pinjam. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan trimakasih.

Vie Maritas, Hong Kong

JAWAB

Wa’alaikum salam wr wb. Yang pasti Allah SWT telah mencatat niat Anda melunasi utang. Teruslah berusaha menemukan alamat teman Anda atau keluarganya (ahli warisnya) agar Anda bisa melunasi utang tersebut. Kalaupun hingga akhir hayat tidak menemukannya, niat Anda yang kuat untuk melunasi utang itu insya Allah sudah mencukupi untuk ”menebus dosa utang” Anda itu. Amin.

Saran kami, Anda rajin bersedekah. Salah satunya, sejumlah utang itu disedekahkan atas nama teman Anda. Jumlahnya masih sama dengan ketika Anda berutang.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, 
“Apabila kamu mempunyai kewajiban hutang pada seseorang. Dan kamu merasa belum melunasi dan merasa hutang tersebut masih ada sampai orang yang menghutangi mengambil haknya. Maka Apabila orang yang memberi hutang tadi telah meninggal, maka hutang tersebut diberikan pada ahli warisnya. Jika kamu tidak mengetahui ahli warisnya atau tidak mengetahui orang tersebut atau tidak mengetahui di mana dia berada, maka utang tersebut dapat disedekahkan atas namanya dengan ikhlas. Dan Alloh subhanahu wa ta’ala mengetahui hal ini dan akan menunaikan pada orang tersebut.” (Syarh Riyadhus Shalihin, Bab Taubat, I/47). 
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa beliau membeli budak dari seorang laki-laki. Kemudian beliau masuk (ke dalam rumah) untuk mengambil uang pembayaran. Akan tetapi tuan budak tadi malah pergi sampai Ibnu Mas’ud yakin lagi tuan budak tersebut tidak akan kembali. 

Akhirnya beliau bersedekah dengan uang tadi dan mengatakan, “Ya Allah, uang ini adalah milik tuan budak tadi. Jika dia ridha, maka balasan untuknya. Namun jika dia enggan, maka balasan untukku dan baginya kebaikanku sesuai dengan kadarnya.” (Tazkiyatun Nufus, Ibnu Rojab, Ibnul Qoyyim, dan Imam Al Ghozali oleh Dr. Ahmad Farid). Wallahu a’lam.*


sumber : ddhongkong.org

Previous
Next Post »