Senin, 02 Mei 2016

Waspada Oknum Operator SPBU Nakal, Ini Penuturan Mantan Pekerja SPBU


On The Spot - Publik, khususnya netizen dibuat heboh dengan cerita pengalaman pahit dari salah satu pengguna akun facebook bernama @Wiwik Sugiarji.

Pasalnya belum lama ini dirinya membagikan cerita di facebook mengenai pengalaman buruknya di SPBU. Ia mengaku merasa jengkel sekaligus sedih karena merasa ditipu oleh pihak operator SPBU di kota Bogor.

Bukan tanpa sebab, dirinya berani membagikan pengalamannya di media sosial. Alasannya, dia hanya berharap agar orang lain tidak mengalami hal yang sama seperti yang dialaminya.
 
Unggahan pengalaman buruk di akun @WiwikSugiarni itu sudah mencapai 6.058 share dengan total like 4.154 orang dan berhasil mengundang komentar sebanyak 368 komentar netizen pengguna facebook.

Berikut Cerita Dari Pemilik Akun facebook @Wiwik Sugiarji:

MINTALAH BON DI POM BENSIN

Ada yang membuat saya sangat marah sekaligus sedih hari ini. Tadi jam 9. 20 saya masuk ke antrean di pom bensin P di jl xxxx, Bogor.

Cukup banyak antrean sehingga memerlukan salah seorang petugas Pom tersebut mengatur mobil kami agar tidak macet sampai ke jalan raya. Saya diarahkan ke sebelah kiri.

Saya buka jendela mobil dan bertanya ” Mas tangki bensin saya ada di sebelah kiri, bagaimana apakah bisa ?”.
” Bisa bu, selang kami panjang”, katanya.

Waktu tiba giliran mobilku, saya diminta maju kedepan dan nyerong ke kanan.

Sambil membuka jendela saya berikan uang Rp 200.000 dan berkata, ” Mbak 15 liter ya”.

Saya bersiap turun dan akan menutup jendela dan mematikan mesin, eh tiba-tiba 2 orang wanita yang menjajakan minuman “bertengger” kepalanya di bingkai jendela mobilku yang masih terbuka, yang menghalangiku untuk turun.

Mereka langsung memberondong dengan bujukan untuk membeli produk minumannya dan sedikit memaksa untuk membeli.

Saya tolak karena saya memang tidak pernah membeli minuman seperti itu.

Baru saja saya selesai bicara sama “sales girl” itu, si mbak petugas pom sudah menghampiri saya dan bilang , ” Bu sudah bu”. Dia langsung berkata , “Ibu ada uang seribu rupiah?”. Ada kata saya sembari memberikan uang seribu rupuah dan dia memberikanku uang 90 ribu.

Sales girls yang lainnya langsung memberikanku aba-aba untuk segera menjauh karena antrian sudah panjang (lagi).

Saya bilang, “Minta bon nya mbak”, dia menolak dengan pura-pura tidak mendengar.

Saya teriak, ” Mbak tolong minta bon nya”. Temannya yang lain kembali memperingatkanku bahwa antrian semakin panjang.

Saya tidak peduli karena firasat saya tidak enak setelah saya melihat garis penunjuk bensin di mobilku sepertinya tidak menunjukkan bensin diisi 15 liter.

Si petugas tadi memberiku bon dan temannya memanduku untuk secepatnya keluar dari pom bensin itu.

Saya memang pergi dari situ tapi tidak ke jalan raya dan meneruskan perjalanan.

Saya meminggirkan mobilku di depan tempat mengisi angin, lalu meneliti bon yang diberikan.

Saya marah dan sedih saat saya melihat di bon itu bukan tertulis 15 liter tetapi 13.51 liter dan jumlah rupiah 100 ribu.

Berarti dia MEMBOHONGI saya.

Ada 1.49 liter bukan hak nya yang dia ambil !

Saya geram sekali. Saya jadi berprasangka buruk.

Jika dalam sehari ada ratusan ada konsumen yang tidak perhatian ( terutama kaum Pria, biasanya konon katanya mereka bahkan tidak memeriksa uang kembalian )

Saya berjalan cepat menghampiri mbak yang tadi melayani saya.

Salah seorang sales minuman berteriak spontan, “Nah loh si ibu datang lagi!”.

Saya datangi mbak tersebut, dia terkejut sekali melihat saya.

“Mbak tadi berapa ya ngisi bensin mobil saya?”. “Oh saya salah ya bu” katanya cepat gelagapan. ” Saya salah ngasih kembalian ya bu?”. Bukan salah ngasih kembalian, mbak membohongi saya. Mbak bilang jumlah pembelian saya Rp.111.000 dengan jumlah bensin 15 liter sesuai permintaan saya, padahal di bon tertulis Rp. 100.000 dengan pembelian 13.51 liter.

Kenapa mbak seperti ini…? Kalau sehari disini ada 100 orang yang mbak perlakukan seperti saya maka berapa uang haram yang mbak ambil?”.
Mobil yang ngantri makin panjang. Mereka membunyikan klakson. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Dan saya pun minta untuk bertemu dengan pimpinan pom bensin tersebut.

Ini bukan masalah uang Rp 9.000 hak saya yang dia korupsi tapi lebih kepada moral yang harus segera diperbaiki.

Saya ingin memulainya dari diri sendiri.

Saya ingin memberitahunya tidak nanti atau besok.

Lalu saya bertanya siapa namanya. Dengan gemetar dia menunjukkan nama yang tertera di dadanya, DA, itu inisial namanya.

Sebenarnya saya kasihan padanya. Tetapi mengapa dia berbuat buruk seperti itu? toh dia sendiri yang akan rugi dunia akhirat. Entah mengapa dia melakukan itu.

Hanya dia saja atau semua petugas disitu yang berpraktek seperti itu ? Apakah para penjual minuman yang berada di situ juga bekerja sama untuk menghalangi pembeli tidak fokus memperhatikan meteran. ..? Wallahu a’lam.
Jadi berprasangka buruk saya. Astagfirullah…

Saya berjalan menuju ruang pimpinan ,tapi dihadang seseorang yang berseragam safari coklat. Katanya cukup sama dia saja. Dan bertanya ada masalah apa?

Saat kuceritakan wajahnya datar saja seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan dia bertanya, “Sudah clear kan bu? uang ibu sudah dikembalikan Dini…?”.

Emosi saya yang tadinya saya tahan langsung meledak. Saya katakan kepadanya, sudah parah sekali ahlak kalian, bukannya karyawan dipanggil lalu diperingatkan dan meminta maaf sama saya tapi malah menganggap gampang semua masalah.

Bapak tersebut memerah wajahnya mendengar nada suaraku yang meninggi, lalu dia meminta maaf dan berjanji untuk memperingatkan si DA itu.

Selama ini saya juga pernah baca sepintas status teman FB tentang hal seperti yang saya alami ini, saat itu belum terbayang suatu saat saya ( WS) akan benar-benar mengalaminya.

Dalam hati, saya berterimakasih kepada teman FB yang dulu pernah berbagi karena dengan begitu saya jadi waspada.

Maka sahabatku, mintalah selalu bon pembelian untuk cek dan ricek antara pembayaran dan jumlah bensin yang sesungguhnya. 




Sumber : Sebarkanlah.com

Previous
Next Post »